Aikido - The Art of Peace
August 16th, 2008 by malangaikidoclubThe Art of peace begins with you.
Work on yourself and your appointed task in the Art of Peace.
Everyone has a spirit that can be refined,
a body that can be trained in some manner,
a suitable path to follow.
You are here for no other purpose than to realize your inner divinity and manifest your innate enlightment.
Foster peace in your own life and than apply the art to all you encounter
-Morihei Ueshiba-
Seni damai harus dimulai dari diri sendiri.
Sehingga ia akan bermanfaat bagi dirimu dan untuk tugas yang harus dipenuhi dalam seni damai.
Setiap orang memiliki jiwa yang dapat dimurnikan,
tubuh yang dapat dilatih dalam suatu cara tertentu,
Jalan / keyakinan yang sesuai untuk diikuti.
Kamu berada disini tidak untuk tujuan lain selain menyadari sifat ke-ilahian dalam dirimu dan menunjukkan pencerahan pribadimu.
Peliharalah damai dalam kehidupanmu dan aplikasikan seni damai itu pada semua hal yang kamu jumpai
Dalam pemahaman saya, O Sensei secara jelas menyatakan bahwa Aikido tidak dipelajari secara teknik semata. Jika dirunut sejarahnya, Aikido yang digambarkan oleh O’Sensei pada saat-saat terakhir di hidupnya merupakan suatu perpaduan pencerahan spiritual O’Sensei dengan pengalaman dan penguasaan bela diri pribadinya yang luar biasa.
O’Sensei menyatakan bahwa tubuh setiap manusia merupakan miniatur alam semesta, oleh karenanya tubuh manusia juga merupakan sebuah kuil kecil sebagai tempat untuk mengenali eksistensi pribadi dan alam semesta, mikrokosmos dan makrokosmos, jagat alit dan jagat agung.
“Barang siapa mengenali dirinya maka ia mengenali Tuhannya”
Disinilah titik tolaknya, bahwa dalam Aikido kita dituntut oleh O’Sensei untuk memulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Kita harus memahami diri kita sendiri sebelum memahami orang lain, mengendalikan ego diri kita sendiri sebelum mengendalikan ego orang lain, merasakan kuncian terlebih dahulu sebelum melakukan kuncian terhadap orang lain, menjatuhkan diri sendiri sebelum menjatuhkan orang lain, melaksanakan uke sebelum mennjadi tori dsb.
Dengan memiliki pemahaman terhadap diri sendiri maka secara alami akan terbentuk kesadaran penuh mengenai teknik-teknik dalam Aikido, kapan timing yang tepat, bagaimana teknik itu harus dieksekusi, titik-titik mana yang menjadi fokus dalam kuncian, ataupun bagaimana postur dan cara yang aman untuk jatuh. Dengan demikian maka ekspekstasi O’Sensei bahwa setiap aikidoka harus mampu melaksanakan teknik-teknik dalam Aikido secara lembut, mengalir, aman, harmonis dan membahagiakan bagi kedua belah pihak akan tercapai.
O’ Sensei mengatakan bahwa setiap orang memiliki jiwa yang dapat dimurnikan, tubuh yang dapat dilatih dalam suatu cara tertentu dan keyakinan / jalan yang sesuai untuk diikuti.
Inilah Budo, Budo adalah penggemblengan diri sendiri, tidak hanya dari segi fisik saja namun juga meliputi mental dan pikiran.
Dalam berlatih Aikido, semakin lama kita berlatih tentunya diharapkan perkembangan fisik kita sejalan (harmonis) dengan penguasaan teknik serta pemahaman terhadap Aikido itu sendiri. Hal ini akan tercermin pada saat rekan-rekan Aikidoka mengikuti ujian kenaikkan tingkat, semakin tinggi tingkatan rekan-rekan tentunya akan dihadapkan pada materi ujian yang makin tinggi, sulit dan beragam. Hal ini hanya dapat dilampaui dengan kondisi fisik yang baik seiring dengan kesempurnaan penguasaan teknik Aikido. Tanpa performa fisik yang cukup memadai dan teknik yang betul-betul mengalir, lembut dan harmonis niscaya ujian tersebut akan mencerminkan bahwa kita belum layak untuk naik tingkat.
Dalam teknik Aikido yang pertama kali harus dikuasai adalah teknik langkah. Mustahil seorang Aikidoka dapat melaksanakan teknik-teknik kuncian atau lemparan dengan sempurna (dalam terminologi Aikido tentunya) tanpa penguasaan yang cukup terhadap teknik langkah. Jika hal ini dilanggar, saya yakin akan banyak improvisasi dalam pelaksanaannya sehingga pada akhirnya justru menjadikan teknik tersebut memasuki keadaan yang berbahaya untuk dilaksanakan, baik bagi uke maupun bagi tori karena tanpa teknik langkah yang benar tentunya akan terbuka kondisi yang membahayakan bagi tori, misalnya uke tidak ternetralisir dengan baik sehingga dapat melayangkan serangan susulan pada pertempuran yang sebenarnya ataupun menyebabkan uke cedera serius bahkan cacat permanen. Sehingga sangat penting bagi kita untuk memahami jenis-jenis teknik langkah seperti okuriashi, ippodachi, irimi, tenkan kaiten dsb.
Dipandang dari segi stamina, tentunya diharapkan mereka yang memiliki tingkat lebih tinggi juga memiliki kondisi stamina yang lebih baik (seperti yang tercermin pada ujian kenaikkan tingkat). Disinilah peran senior untuk mengikis ego bahwa, “akulah yang lebih tahu” atau “akulah yang berhak menjadi tori” harus dikikis sampai tuntas. Jika seorang senior terjebak dalam pemikiran seperti ini, maka hal ini menjadi kondisi rugi bagi kedua belah pihak, tori maupun uke. Seorang senior yang terjebak dalam keadaan ini, secara tidak sadar dia memanjakan dirinya untuk digembleng agar lebih siap secara fisik dan stamina, yang pada akhirnya menunjukkan performa yang tidak signifikan untuk tingkatan yang disandangnya. Bagi uke yang notabene junior, hal ini merupakan pengkerdilan, karena teknik aikido tidak bisa diceritakan, karena ia merupakan olah rasa yang pada tahap akhir akan bermetamorfosis sesuai dengan karakter hakiki yang dimiliki oleh pelakunya. Tanpa merasakan bagaimana melaksanakan suatu teknik, ia tidak akan pernah memahami esensi suatu teknik. O’ Sensei mengatakan tidak selamanya seorang senior dapat membimbing junior hanya ketika ia menjadi tori, sering kali pada saat sang senior menjadi uke, ia dapat mengukur ketepatan teknik, keamanan maupun titik-titik yang menjadi fokus dalam pelaksanaan suatu teknik.
Pemurnian jiwa, menunjukkan dalam tata cara, sopan santun serta etika di Aikido adalah sarana untuk memurnikan jiwa pelakunya. Bagaimana kita menghargai setiap karya cipta Tuhan, menghormati setiap daripada rekan-rekan kita berlatih untuk dapat terus tumbuh, berlatih dengan nyaman serta berbahagia dalam melaksanakan setiap teknik yang diberikan oleh Sensei yang mengajar. Pemurnian jiwa menunjukkan penguasaan kita terhadap diri sendiri, seperti yang dikehendaki oleh O’Sensei. Dalam adat beladiri Jepang, tingkatan senior junior tidak hanya ditunjukkan oleh tingkat (rank) semata, masih banyak aspek lain yang menentukan seperti tingkat usia, lama berlatih, kemahiran dalam penguasaan teknik maupun hal-hal yang kecil seperti bagi mereka yang datang terlambat hukum ini juga berlaku. Suatu contoh, tidak selamanya seorang senior yang datang terlambat bisa seenaknya masuk ke matras lalu menjadi tori bagi junior yang telah datang dari awal, seakan-akan sudah memahami materi yang diberikan. Hal ini ironis, meurut penuturan beberapa Shihan, selama menjadi murid O’Sensei, beliau tidak pernah menyaksikan O’Sensei mengajar dalam format yang tepat, senantiasa berubah-ubah setiap saat, bahkan secara prinsip pun sangat berbeda dari awal O’Sensei mengajar hingga saat-saat terakhirnya, dari tegas dan praktis menjadi lembut, mengalir dan harmonis. Dalam kesempatan lain, O’ Sensei pernah menegur muridnya karena tidak mengenakan hakama, dikisahkan pada saat itu muridnya telah mengenakan dogi lengkap dengan sabuk tingkat obi namun O’Sensei dengan tegas menyuruh muridnya tersebut untuk menyaksikan saja di sudut dojo tanpa berhak masuk ke matras sebagai uke sekalipun. Disini O’Sensei menunjukkan bahwa demikian pentingnya etika dalam berlatih, bagaimana kita menghargai dojo dan rekan-rekan sesama aikidoka, bagaimana kita menempatkan dan menguasai diri serta pentingnya penggemblengan keluhuran dan kemurnian jiwa kita sehingga senantiasa ego kita terkikis da memahami segala sesuatu secara murni tanpa suatu distorsi buah pikiran apapun. Senior ya senior, tidak pakai hakama ya tidak pakai hakama, terlambat ya terlambat, segala sesuatu harus dipandang dengan jiwa yang murni. Dalam contoh kasus aplikatif adalah suatu hal yang sangat tidak sopan ketika seorang senior mengintervensi rekan selain pasangannya dalam berlatih dengan alasan apapun, kecuali pada saat itu mendapat wewenang sebagai dojo cho (instruktur) ataupun tidak mengenakan dogi namun memaksakan diri untuk masuk ke matras dan berbagai hal yang lain.
Dalam Aikido selalu ditekankan dalam eksekusi suatu teknik harus dilaksanakan dengan rileks dan santai, sehingga performanya terlihat santun, lembut, mengalir dan elegan. Jika ditinjau dari segi keilmuan modern, hal ini dimaksudkan agar Aikidoka senantiasa berada dalam gelombang otak alpha. Penelusuran lebih lanjut menunjukkan dalam keadaan terjaga dimana otak dalam gelombang Beta maka potensi otak yang dapat digunakan maksimal hanya sekitar 12% saja, sedangkan pada kondisi rileks yaitu gelombang alpha kita mampu menggunakan potensi otak hingga 88%! Dalam terminologi pertempuran, menurut O’Sensei dapat terjadi berbagi macam kemungkinan, yang mustahil untuk dijadikan nomenklatur bagi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Sehingga dalam setiap pertempuran akan didominasi oleh improvisasi-improvisasi oleh pelakunya. Hal ini hanya dapat terjadi jika pelaku pertempuran tersebut benar-benar membenamkan setiap prinsip dalam bertempur kedalam alam bawah sadarnya, sehingga sering kali didengungkan istilah belajar dan lupakan. Ini dimaksudkan agar setiap gerakan yang terjadi menjadi sebuah reaksi spontan bagi pelakunya, sehingga dalam terminologi bertempur samurai yaitu single deadly blow yang diadopsi dalam Aikido yang pelaksanaannya membutuhkan waktu yang sangat cepat, sepersekian detik dapat diantisipasi dengan cepat dan tepat pula. Menjadi suatu hal yang konyol dalam berlatih Aikido kita menekankan pada pengayaan variasi teknik, seperti ini kurang tajam, ini kurang menyakitkan atau Shihan inilah yang tekniknya paling dashyat dsb. Secara nalar sudah bisa dipastikan, bahwa sejuta variasi teknik yang kita punyapun tidak akan sempat terpikir untuk dieksekusi ketika terjadi suatu serangan dalam waktu sepersekian detik, sehingga menjadi suatu kekonyolan ketika mempelajari Aikido tanpa mempelajari esensi dan prinsip yang dihadirkan.
Setiap petunjuk yang diberikan oleh O’Sensei pada umumnya hanya berupa puisi, sehingga untuk memahami makna yang disampaikan membutuhkan proses perenungan dan kemurnian hati. Hal ini juga tercermin dalam teknik-teknik Aikido yang diajarkan oleh O’Sensei, semua berupa kiasan yang menyelimuti sebuah teknik mematikan dengan gerakan yang indah dan mengalir sehingga menjadikan Aikido sebagai suatu seni beladiri yang indah untuk dinikmati pertunjukannya, damai untuk dilaksanakan bagi pelakunya, memiliki nilai aerobik yang tinggi dengan resiko minimal yang telah diperhitungkan dengan matang.
Aikido didesain oleh O’Sensei sebagai seni beladiri modern yang mengharmoniskan berbagai aspek kehidupan dalam setiap latihannya. Kemurnian jiwa akan membimbing pelaku Aikido untuk berlatih dengan bahagia, tanpa ada rasa takut untuk saling mencederai, tanpa ada pertanyaan mengapa harus berlatih ukemi dsb. Sesungguhnya dalam setiap teknik Aikido jika dikaji lebih dalam merefleksikan ajaran-ajaran yang luhur dan secara sadar atau tidak akan mewarnai nilai-nilai kehidupan bagi pelakunya, entah itu ukemi, ikkyo ataupun tenkan kaiten jika dipandang dengan jiwa yang murni rekan-rekan akan menemukan ajaran-ajaran yang indah yang memberikan pencerahan bagi jiwa yang murni. Pada akhirnya hal inilah yang akan membimbing kita untuk meyakini Aikido sebagai Do (jalan) yang kita yakini untuk menjalani kehidupan kita, karena ia akan memberikan pencerahan bagi agama apapun yang kita anut, karena ia menjelaskan detail-detail dalil ataupun sabda dalam kitab suci yang tidak dapat kita pahami tanpa kemurnian jiwa.
“Sifat-sifat Tuhan melekat pada ciptaanNya”
Kita berlatih Aikido selain untuk tujuan fisik seperti kesehatan, pembelaan diri, sosialisasi dsb pada dasarnya memiliki sasaran lain yang jauh lebih luhur dan agung yang tidak nampak secara eksplisit dalam latihan sehari-hari.
Tanpa memilah-milah keyakinan yang O’Sensei anut, sebenarnya nilai-nilai universalitas betul-betul mengakar kuat dalam sikap dan perilaku O’Sensei yang demikian cinta damai. Dalam berlatih Aikido sebenarnya kita sedang dibimbing oleh O’Sensei untuk memahami diri sendiri, memandang diri prinadi dengan cermin yang bening, yaitu jiwa yang murni. Dengan berlatih teknik Kinonagare, pengkondisian diri dalam gelombang alpha sehingga memungkinkan kita meningkatkan kepekaan terhadap energi alam semesta (KI) yang hakiki, kita diharapkan sampai sampai pada satu titik dimana kita memahami jati diri dan eksistensi diri bahwa kita semua merupakan cipataan Tuhan Yang Maha Esa, yang sekecil apapun peran kita dalam kehidupan merupakan sesuatu yang harus dilindungi kelestariannya sebagai bagian dari irama alam semesta.
“Aku adalah alam semesta”
“Segala sesuatu yang ada berasal dari kehampaan / ketiadaan”
Betul, kita semua adalah bagian dari alam semesta, yang harus bekerja sama memahami posisi dan peran masing-masing, saling menjaga dan menghormati untuk bersinergi secara harmonis mewujudkan kedamaian dan keindahan bagi setiap kehidupan. Dengan meyakini dan memahami eksistensi KI sebagai energi yang hakiki dan absolut, diharapkan kita dapat merasakan berbagai macam energi yang disediakan oleh alam semesta ini. Dengan merasakan dan meyakini berbagai macam energi dari alam semesta diharapkan kita berada pada satu tingkat keyakinan bahwa alam semesta tercipta dengan tingkat kesulitan yang jauh lebih rumit dan kompleks dibandingkan dengan penciptaan manusia, sehingga untuk melestarikan eksistensinya kita harus berdamai dengan diri sendiri, memahami peran masing-masing untuk mewujudkan dunia yang lebih indah dan damai. Penjelasan secara modern dapat kita temukan dalam teori-teori Fisika Kuantum, yang menjelaskan bahwa pada tingkatan yang terkecil dibawah partikel yaitu kuanta sesengguhnya tidak ada yang berbentuk benda padat melainkan energi yang senantiasa bergerak, energi yang bergerak lambat terefleksi sebagai benda padat demikian pula sebaliknya. Dalam penjelasan ini sesungguhnya aku, kamu, dia, kita ataupun mereka sesungguhnya adalah satu, oleh karenanya Aikido mengajarkan kita ke-kesatuan (musubi). Tidak ada perlawanan, hanya mengalirkan.
O’Sensei mengajarkan segala sesuatu yang hidup didunia ini bergerak dalam suatu lintasan spherical, bisa lingkaran ataupun elips, misalnya rotasi bumi, revolusi bulan, revolusi bumi dsb. Sehingga prinsip inilah yang senantiasa termanifestasi dalam teknik-teknik Aikido, seperti tenkan kaiten. Nah, disinilah penjelasannya mengapa teknik langkah harus benar-benar dipahami untuk mencapai aplikasi teknik yang sempurna dalam Aikido. Sehingga sangat picik ketika kita belum mampu melakukan tenkan dengan sempurna lalu dengan arogan melakukan improvisasi prinsip-prinsip teknik kotegaeshi karena menganggap uke tidak melakukan serangan dengan benar sehingga jawaban akhirnya adalah uke cedera karena mengalami suatu teknik yang dipaksakan!
Demikianlah, menurut hemat saya Aikido merupakan suatu latihan seumur hidup yang tidak pernah berakhir, terus mengalir dalam lintasan-lintasannya yang tidak pernah berakhir, selalu berulang untuk menyempurnakan.
Jika pada usia muda kita berupaya meningkatkan kondisi fisik maka ketika usia mulai beranjak lanjut, Aikido menjadi sarana untuk melatih jiwa kita. Fisik boleh berhenti berkembang, namun menjadi suatu hal yang konyol ketika jiwa harus berhenti berlatih dan bertumbuh.
jika ada kritik maupun saran mohon disampaikan
Wass
-EriKK-